RESUME ILMIAH DARI BUKU STUDI ISLAM DALAM DINAMIKA GLOBAL
Nama Anggota Kelompok:
1. Lutfia Mir Rohmatik (20105006)
2. Karisma Isnaini (20105008)
3. Pepi Endah Rahayu (20105009)
MODEL – MODEL PENELITIAN AGAMA SEBAGAI DOKTRIN &
PRODUKSI BUDAYA
Kata-kata doktrin berasal dari bahasa Inggris doktrinal yang berarti ajaran. Oleh karena itu doktrin tapi dikenal atau disebut dengan ajaran-ajaran yang bersifat absolut yang tidak boleh diganggu dalam kamus ilmiah populer dari dalil-dalil dari suatu ajaran. kemudian diuraikan bahwa doktrin adalah ajaran-ajaran atau pendirian suatu agama atau aliran atau segolongan ahli yang tersusun dalam sebuah sistem yang tidak bisa terpisahkan antara yang satu dengan lainnya.
M. Atho Mudzharmengatakan bahwa perbedaan antara penelitian agama dengan penelitian keagamaan perlu didasari karena perbedaan tersebut membedakan jenis metode penelitian yang diperlukan. Untuk penelitian agama yang sasarannya adalah agama sebagai doktrin, bagi pengembangan suatu metodologi penelitian tersendiri sudah terbuka, bahkan sudah ada yang merintisnya.
Kata doktrin berasal dari bahasa inggris doctrine yang
berarti ajaran. Dari kata doctrine itu kemudian dibentuk kata doktina berarti
yang berkenaan dengan ajaran atau bersifat ajaran. Selain kata doctrine
sebagaimana dari disebut diatas, terdapat kata doctrinaire yang berarti yang
bersifat teoritis yang tidak praktis. Contoh dalam hal ini misalnya doctrainare
ideas ini berarti gagasan yang tidak praktis.
Namun meski kita mempunyai dua sumber, sebagaimana
disebut diatas, ternyata dalam realitasnya, ajaran Islam yang digali dari dua
sumber tersebut memerlukan keterlibatan tersebut dalam bentuk ijtihad. Dengan
ijtihad ini, maka ajaran berkembang. Karena ajaran Islam yang ada didalam dua
sumber tersebut ada yang tidak terperinci, banyak yang diajarkan secara garis
besar atau global. Masalah-masalah yang berkembang kemudian yang tidak secara
terang disebut di dalam dua sumber itu di dapatkan dengan cara ijtihad.
Sebelum mendekati agama, memang amat perlu mengetahui sasaran yang akan didekati, yaitu agama atau kepercayaan yang terjadi karena adanya dipandang mahakuasa menjadi sumber dari segala sesuatu.
- Agama Alam, atau sering juga disebut agama suku bangsa primitif, disebut juga «innerweltlich religion». Berbagai sebutan yang diberikan kepada agama itu, sesuai dengan dasar kepercayaannya, seperti animisme, dinamisme, polytheisme dan ada yang menyebut dengan agama leluuhur, kepercayaan nenek moyang; paganisme, syamanisme dengan berbagai ritus dan perbuatan-perbuatan keagamaan dengan aneka sebutan, sepeti dewa, Tuhan, dan lain-lain seolah-olah berada dalam dunia kehidupan manusia, tetapi kuasa memberikan kekuatan-kekuatan atau kesaktian pada manusia yang menguasai tata cara untuk memperoleh kekuatan sakti itu.
- Agama Profetis, yang biasanya juga disebut agama samawi,Melalui utusan atau nabi-Nya kepada manusia. Agama yang tergolong jenis ini, adalah agama Islam, Nasrani, dan Yahudi.Tuhan atau Khalik Yang Maha Pencipta, berkuasa atas segala sesuatu berada di luar makhluk, dan menentukan sendiri kehendak-Nya dan tidak tergantung pada makhluk-Nya.
Aspek-aspek
ajaran Islam yang. Dapat didekati secara ilmiah yang relevan dan perkembangan.
Pengkajian Islam di masa depan.
1. Imam
kepada Allah
Kalimat laa illaha illa Allah atau
biasa disebut kalimat thayyibah adalah suatu pernyataan pengakuan tentang
keberadaan Allah Yang Maha Esa: Tiada Tuhan selain Dia. Ia merupakan bagian
dari lafad syahadatain yang harus diucapkan oleh seseorang yang akan masuk dan
memeluk agama Islam.
2. Kemustahilan
menemukan zat Allah
Allah adalah Maha Esa, baik dalam
zat, sifat maupun perbuatan. Esa dalam zat artinya Allah itu tidak tersusun
dari beberapa bagian yang terpotong-potong dan Dia pun tidak mempunyai sekutu.
Allah. Dan Esa dalam perbuatan ialah bahwa tidak ada seorangpun yang mampu
mengerjakan sesuatu yang menyerupai perbuatan Allah.
3. Argumen
Keberadaan Alloh.
Iman kepada Allah adalah doktrin
utama dalam Islam yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Ia adalah dimensi
ta’abudi yang terkait dengan petunjuk dan pertolongan Allah atas hamba-Nya.
Tanpa hidayah dari Allah, akan sulit bagi siapapun untuk dapat mempercayai-Nya.
4. Iman
kepada Malaikat, Kitab, Rasul
A. Malaikat
terkadang disebut al-mala’ al-a’la adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dari
al-nur, riwayat Imam Muslim yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan malaikat
dari cahaya, jin dari nyala api, dan Adam dari tanah.
B. Kitab
kitab Allah
Ayat-ayat Allah SWT. S, Nabi Musa
a. Keempat kitab itu disebut kitab-kitab langit , karena kitab-kitab itu
diyakini umat Islam sebagai firman Allah yang diwahyukan kepada para nabi dan
rasul.
C. Al-Qur’an
diturunkan kepadan Nabi Muhammad Saw diturunkan selama 22 tahun lebih dan
diturunkan di dua kota: Mekah dan Madinah. Al-Qur’an dibagi menjadi 30 juz dan
terdiri atas 114 surat. Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad Saw dan sebagai kitab terakhir.
D. Kitab
Injil
Kitab Injil adalah firman Allah
yang diwahyukan kepada Nabi Isa a.s. Ia hanya disyariatkan untuk kaum Nasrani.
E. Kitab
Tauhid
Taurat (Ibrani: Thora) merupakan
firman Allah yang. Diwahyukan kepada Nabi Musa a.s, untuk membimbing Bani
Israil.
Isi utama dari kitab Taurat adalah
Sepuluh perintah Tuhan yang diterima oleh Nabi Musa a.s.
F. Kitab
Zabur
Zabur yang kata jamaknya Zubur
didalam Al-Qur’an terdapat beberapa tempat. Zabur dalam tulisan adalah firman
Allah yang diwahyukan kepada Nabi Dawud a.s.
G. Doktrin Islam mengajarkan agar setiap orang Islam beriman kepada semua rasul yang diutus oleh Allah SWT tanpa membedakan antara satu rasul dengan rasul lainnya.
H. Ketika manusia mati, ruh tidak ikut mati tetapi kembali kealam arwah. Kematian merupakan pintu bagi manusia untuk memasuki alam kedua, alam kubur atau biasa disebut alam barzakh.
Budaya
adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi dan lahir dari hasil
pemikiran dari manusia. Sehingga bisa dikatakan semua yang lahir dari pemikiran
manusia disebut budaya.
Agama
adalah sistem kepercayaan manusia yang berhubungan dengan Tuhan. Jika aturan
itu berasal dari Tuhan, maka itu tidak bisa dikatakan suatu kebudayaan, karena
bukan kreasi manusia, melainkan kreasi Tuhan yang bersifat mutlak. Agama lebih
dimaknai sebagai bagian dari kehidupan (budaya) individu atau kelompok, yang
masing-masing pemeluk memiliki otoritas dalam memahami agama serta mengaplikasikannya.
Agama
merupakan kenyataan yang dapat dihayati, sebagai kenyataan berbagai aspek
perwujudan agama bermacam- macam. Tergantung dari beberapa spek yang dijadikan
sasaran studi dan tujuan yang hendak dicapai oleh orang yang melakukan studi.
Tujuan mempelajari agama Islam juga dapat dikategorikan ke dalam dua macam, untuk
mengetahui, menghayati, memahami dan mengamalkan dan untuk obyek penelitian. Untuk
memahami suatu agama, khususnya Islam harus melalui dua model yaitu, tekstual
dan kontekstual. Tekstual artinya memahami Islam melalui wahyu yang berupa
kitab suci, sedangkan kontekstual adalah memahami Islam melalui realitas sosial
yang berupa perilaku masyarakat yang memeluk agama bersangkutan. Kebudayan
adalah keseluruhan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk
sosial yang isinya adalah perangkat model-model pengetahuan yang secara
selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang
dihadapi.
Islam
merupakan agama yang diwahyukan Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. sedangkan
Yahudi dan Nasranu merupakan merupakan agama wahyu yang diterima oleh Nabi Musa
dan Nabi Isa. Agama dan wahyu bukan termasuk kebudayaan. Pendapat Endang
Saifuddin Anshari yang mengatakan suatu dalam tulisannya bahwa : “Agama samawi dan kebudayaan tidak saling
mencakup, pada prinsipnya yang satu tidak merupakan bagian dari yang lainnya,
masing-masing berdiri sendiri”. Jadi antara keduanya tentu saja dapat
saling berhubungan dengan erat seperti pada kehidupan yang saat ini dijalani.
Menurut Faisal Ismail, hubungan erat itu adalah bahwa Islam merupakan dasar,
asas pengendali, pemberi arah dan sekaligus merupakan sumber nilai-nilai budaya
dalam pengembangan dan perkembangan kultural. Faisal menjelaskan bahwa walaupun
memiliki keterkaitan, Islam dan kebudayaan merupakan dua entitas yang berbeda,
sehingga keduanya bisa dilihat dengan jelas dan tegas. Seperti halnya shalat
dimana sebagai pendekatan dengan Tuhan, disisi lain sebagai pendorong dan
penggerak bagi terciptanya kebudayaan.
Jadi,
Islam mempunyai dua aspek, yakni agama dan kebudayaan. Dalam pandangan ilmiah,
antara keduanya dapat dibedakan, tetapi dalam pandangan Islam sendiri tidak
dapat dipisahkan. Agama dan budaya adalah sesuatu yang berbeda, namun tetap
tidak menutup kemungkinan keduanya akan bertemu dan saling berhubungan. Hal ini
salah satu faktor yang menyebabkan adanya akulturasi, asimilasi, sintesis dalam
lingkup budaya dan agama.
·
Akulturasi adalah bersatunya dua
kebudayaan sehingga menghasilkan kebudayaan baru tanpa menghilangkan kebudayaan
lama.
- Asimilasi adalah bercampurnya dua
kebudayaan baru
- Sintesis adalah bercampurya dua kebudayaan
yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda
dengan kebudayaannya.
Islam
antara gejala sosial dan budaya, Islam sebagai yang mempunyai konsep atau suatu
ajaran yang bersifat manusiawi dan universal guna dapat menyelamatkan umat
manusia dan alam semesta dari kehancuran. Oleh karenaitu, Islam harus bisa menawarkan
nilai, norma dan aturan hidup yang bersifat manusiawi dan umum kepada
manusiawi, serta diharapkan dapat memberikan alternatif pemecahan terhadap
problematis umat manusia pada era global ini. Ajaran agama Islam telah tumbuh
dan berkembang sejalan dengan pikiran manusia serta sosial budayanya untuk mewujudkan
suatu sosial budaya dan masyarakat Islami.
Islam
merupakan agama yang diwahyukan oleh Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW.
sebagai jalan hidup untuk meraih kebahagaan di dunia maupun di akhirat. Agama
islam juga disebut agama samawi, kemudian Yahudi dan Nasrani juga termasuk
utusan Allajh yang menerima perwahyuan agama. Proses interaksi Islam dan budaya
dapat terjadi degan dua cara, yang pertama dengan cara Islam mewarnai,
mengubah, mengolah dan memperbaharui budaya. Cara yang kedua dengan, Islam yang
diwarnai dengan Kebudayaan. Masalahnya, tergantung dari kekuatan dua entitas
yang bersangkutan. Jika entitas kebudayaan yang kuat maka akan muncul
muatan-muatan local dan agama, seperti Islam jawa. Tetapi jika entitas islam
lebih kuat dan mempengaruhi budaya maka akan muncul kebudayaan Islam.
Penggunaan
pendekatan kebudayaan dalam studi Islam memiliki banyak kelebihan dengan hanya
menggunakan pendekatan teologis dan formatif. Kedua pendekatan tersebut sebagai
alat metodologi untuk memahami corak keagamaan yang dimiliki oleh suatu
masyarakat. Pendekatan yang digunakan untuk dapat mengarahkan dan menambah
keyakinan-keyakinan keagamaan yang dimiliki masyarakat sesuai dengan ajaran
yang benar tabpa harus menimbulkan gejolak. Ada empat ciri fundamental cara
kerja pendekatan antropologi terhadap agama,antara lain :
- Bercorak descriptive, diawali dengan kerja lapangan yakni observasi dan
diamati yang berhubungan dengan orang, masyarakat ataupun kelompok setempat
dalam jangka waktu yang lama dan mendalam. Cara kerja yang dilakukan adalah
dengan hidup bersama masyarakat yang diteliti, mengikuti ritme dan pola hidup
sehati-hari mereka dalam waktu yang cukup lama jika ingin memperoleh hasil yang
akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
- Lokal Practice
merupakan praktik konkret dan nyata di lapangan yang dilakukan setiap hari,
mingguan, bulanan, tahunan ataupun ketika masyarakat mengalami sebuah peritiwa
– peristiwa penting dalam hidupnya.
- Connection
Across Social Domains, dimana ilmu antropologi yang selalu
mencarai keterhubungan dan keterkaitan antara berbagai domain kehidupan secara
utuh. Sebagaiamana hubungan antara wilayah ekonomi, sosial, agama, budaya dan
politik.
- Comparative, dimana studi dan pendekatan antropologi membutuhkan perbandingan dari berbagai sudut pandang yang berbeda seperti, tradisi, sosial, budaya dan agama-agama. Tidak hanya mencari perbedaan dan persamaan saja tetapi yang terpenting adalah sebuah perspektif dan memperdalam bobot kajian. Era global sekarang ini, studi komparatif sangat membantu memberi perspektif baru.
Menurut Djamari, kajian sosiologi agama dengan
menggunakan motode ilmiah, berikut terdapat beberapa cara pengumpulan data dan
metode yang dapat digunakan antara lain:
1. Analisis
Sejarah
Sejarah hanya
sebagai metode analisis atas dasar pemikiran yang bertujuan untuk menemukan
inti karakter agama dengan meneliti sumber klasik sebelum tercampur dengan yang lainnya. Seperti halnya agama
Islam, yang diturunkan bukan hanya untuk satu bangsa saja, melainkan untuk
seluruh bangsa secara universal. Pendekatan sejarah dalam memahami agama
dapat membuktikan apakah agama itu masih tetap ada pada orisinilitasnya seperti
ketika ia baru muncul atau sudah bergeser jauh dari prinsip-prinsip utamanya.
Dan jika dikaitkan dengan agama Islam, maka ia dapat dimasukkan pada kategori
yang bertahan konsisten dengan ajaran seperti pada masa awalnya.
2. Analisis
Lintas Budaya
Analisis lintas
budaya bisa diartikan dengan ilmu antropologi, sebab sesuai dengan definisinya
bahwa antropologi mengkaji kebudayaan manusia. Begitu juga dengan agama yang
mana dalam segi antropologi, kita dapat memilah-milihnya bagian agama Islam
yang merupakan ajaran murni dan mana ajaran Islam yang bercorak local budaya
setempat.
3. Eksprimen
Penelitian
menggunakan eksperimen memang sedikit sulit untuk dilakukan, akan tetapi tetap
memungkinkan untuk dilakukan dalam penelitian agama. Misalnya, untuk
mengevaluasi perbedaan hasil belajar dari beberapa model penelitian agama.
4. Observasi
Partisipatif
Dengan partisipasi
dalam kelompok, peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks
religious. Dan diantara kelebihannya itu memungkinkan pengamatan simbolik antar
anggota kelompok secara mendalam.
5. Riset
Survei dan Analisis Statistik
Penelitian survey
dilakukan dengan penyusunan kuesioner, interview, dengan sampel dari suatu
populasi. Prosedur penelitian ini dinilai sangat berguna untuk memperlihatkan
korelasi dari karakteristik keagamaan tertentu dengan sikap sosial atau atribut
keagamaan tertentu.
6. Analisis Isi
Dengan metode ini, peneliti mencoba mencari keterangan dari tema-tema agama berupa tulisan, buku-buku khotbah, doktrin maupun deklarasi teks dan lainnya. Budaya merupakan keseluruhan hal yang tercipta dari pemikiran manusia. Sedangkan agama adalah system kepercayaan manusia yang berhubungan dengan Tuhan. Dan hal tersebut tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kebudayaan, karena bukan kreasi manusia, melainkan kreasi yang mutlak. Kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang berbeda, akan tetapi dapat saling memengaruhi, yang dikemudian hari akan menghasilkan kebudayaan baru atau percampuran baru. Islam sebagai produk budaya yakni Islam antara gejala sosial dan budaya, Islam sebagai agama yang mempunyai konsep atau ajaran yang bersifat manusiawi dan universal yang dapat menyelamatkan umat manusia dan alam semesta dari kehancurannya.
Penelitian
agama menempatkan diri sebagai suatu kajian yang menempatkan agama sebagai
onyek penelitian. Secara metodologis berarti agama haruslah dijadikan sebagai
suatu yang nyata betapapun mungkin terasa abstrak. Dari perspektif tersebut
maka dapat dibedakan ke dalam tiga kategori agama sebagai fenomena yang menjadi
subyek materi penelitian, yaitu:
Pertama,
Agama Sebagai Doktrin. Penelitian agama sebagai suatu doktrin
menimbulkan beberapa pertanyaan. Pertanyaan inilah yang mungkin mendekati dalam
upaya pencarian kebenaran agama, sesuai yang dilakukan oleh pemikir agama dan mujtahid.
Namun jika para mujtahid mengatakan bahwa “inilah ajaran yang
sesungguhnya”, maka akan terjadi kemadekan pemikiran terhadap agama sebab
mereka sudah mengambil sebuah kesimpulan demikian, disisi lain pun, tradisi
ilmiah hanya berusaha menemukan apa yang dianggap benar. Ali Syari’ati
menyatakan bahwa ketika cara melihat masalah obyek itu berubah, maka sains,
masyarakat dan dunia juga akan berubah serta segala akibatnya kehidupan manusia
juga berubah.
Pengetahuan
yang mendalam tentang esensi ajaran agama ini akan mampu meningkatkan
pengalaman agama bagi seseorang sehingga pada akhirnya seseorang akan mampu
menemukan makna agama bagi manusia itu sendiri. Sehingga pada akhirnya
kerukunan antar umat beragama dapat terwujud dengan sebaik-baiknya. Dalam
penelitian agama sebagai doktrin, studi yang banyak dilakukan adalah bercorak
Sejarah intelektual atau Sejarah pemikiran dan biografi tokoh agama. Maka dari
itu, sejarah merupakan disiplin yang memiliki peran yang sangat penting.
Kedua,
adalah Struktur dan Dinamika Masyarakat Agama. Agama merupakan awal dari terbentuknya suatu
komunitas atau kesatuan hidup yang diikat oleh keyakinan hidup dan kebenaran
hakiki yang sama yang memungkinkan berlakunya suatu patokan pengetahuan yang
sama pula. Meskipun berangkat dari suatu ikatan spiritual, para pemeluk agama
membentuk masyarakat sendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Sebagai satu
masyarakat komunitas ini pun memiliki tatanan yang berstruktur dan tidak pula
terlepas dari dinamika sejarah. Sebagai contoh penelitian kedua ini adalah
terjadinya pengelompokan Islam Santri, Priyayi dan Abangan.
Ketiga, berusaha mengungkap sikap anggota masyarakat terhadap agama yang dianutnya. Jika
kategori pertama mempersoalkan substansi ajaran agama yang dianutnyadengan segala refleksi pemikiran terhadap ajaran, sedangkan kategori kedua meninjau agama dalam kehidupan sosial dan dinamika sejarah, maka kategori ketiga adalah berusaha untuk mengetahui simbol-simbol dan ajaran agama. Dapat kita ketahui bahwa keterikatan seseorang terhadap agama antara yang satu dengan lainnya adalah tidak sama. Dalam pengertian tidak semua aspek atau dimensi agama mengikat pemeluknya dan tidak sama pula dalam keterikatan dalam beragama. Jadi kategori ketiga ini adalah masalah yang bersifat corak dan tingkatan keberagamaan.
I. Penelitian Agama dan Penelitian Keagamaan
Penelitian agama (research
on religious) lebih menekankan pada aspek pemikiran (thought) yang
menggunakan metode filsafat dan ilmu-ilmu humaniora, dan aspek interaksional,
yakni penelitian keagamaan sebagai produk interaksi sosial, menggunakan
pendektaan sosiologi, antropologi, historia, dan sebagainya. Dalam pandangan
Middleton, penelitian agama Islam adalah penelitian yang objeknya adalah
substansi agama Islam, seperti kalam, fikih, akhlak, dan tasawuf. M. Atho
Mudzhar menyatakan bahwa perbedaan antara penelitian agama dengan penelitian
keagamaan perlu disadari karena perbedaan tersebut membedakan jenis metode
penelitian yang diperlukan. Untuk penelitian agama yang sasarannya adalah agama
sebagai doktrin, pintu bagi pengembangan suatu metodologi penelitian tersendiri
sudah terbuka, bahkan sudah ada yang merintisnya. Sedangkan untuk penelitian
keagamaan yang sasarannya agama sebagai gejala sosial, kita tidak perlu membuat
metodologi penelitian tersendiri. Ia cukup meminjam metodologi penelitian
sosial yang telah ada.
Disisi lain, Juhaya
S.Praja berpendapat bahwa penelitian agama adalah penelitian tentang asal-usul
agama, serta pemikiran juga pemahaman penganut ajaran agama tersebut. Sedangkan
penelitian hidup keagamaan adalah penelitian tentang praktik-praktik ajaran
agama yang dilakukan oleh manusia secara individual dan kolektif.
Komentar
Posting Komentar